Kamis, 24 Maret 2011

PEMUDA MILITAN

Mari kita sejenak merenungi kembali sejarah bangsa ini. Bangsa yang di bangun dari tulang belulang pemuda-pemuda Pertiwi. Tanah subur yang di sirami darah anak-anak negeri. Semua bangun, berdiri, berlari demi kebebasan Peradaban kita, Indonesia. Siapa yang punya ide agar bangsa ini merdeka?? Jawabannya adalah PEMUDA. Ya, kita PEMUDA. Dan ku menyebut mereka, PEMUDA MILITAN.
Sejarah besar selalu di bangun oleh para PEMUDA. Siapa yang bersumpah menyatukan Nusantara? Gajah Mada, pemuda yang mengucapkan sumpah Palapa-nya. Di sejarah negeri ini tidak mengenal adanya Sumpah orang tua, adanya ’Sumpah Pemuda’, 1908. Di kamar mungil, seorang mahasiswa bermimpi akan kemerdekaan bangsanya. 20 tahun kemudian impiannya baru tercapai. Siapa pemuda itu? Soekarno, Presiden kita. Hatta yang bersumpah ”tidak akan menikah sampai indonesia merdeka”. Dan, kejatuhan setiapa rezim, selalu di motori kumpulan Pemuda. Bangsa ini di gerakkan oleh pikiran-pikiran besar anak-anak negerinya. Terlalu banyak bila kita harus menyebutkan satu persatu pemuda-pemuda terbaik bangsa ini. Lalu bagaimana dengan kita???
65 tahun kita merdeka secara fisik. Semua itu hasil dari kerja keras dan pikiran-pikiran besar pemuda ”kemerdekaan”. Mereka telah menyelesaikan tugasnya pada zamannya. Menyatukan anak-anak negeri. Memberontak atas kebebasan bangsa.Tapi, kita belum merdeka seutuhnya. Dan tugas kita lah untuk menyelesaikannya. Untuk itu di perlukan pemuda-pemuda yang berpikir dan berjiwa besar, serta berjiwa militan.
Pemuda Militan, bukan berarti kita mengangkat senjata atau teroris. Dalam buku The Celestial Management dapat di maknai sebagai orang yang memiliki semangat tinggi dalam memperjuangkan apa yang di yakininya. Bahkan dia siap mengorbankan harta dan jiwanya. Siapa yang meragukan militansi Bung Karno, Bung Hatta dan kawan-kawan? Mereka korbankan apapun untuk mengusir penjajah. Daya juang mereka tak habis di makan usia. Dan kita tak pernah lupa bagaimana jenderal kita, Sudirman. Walaupun dalam keadaan sakit dan harus ditandu. Beliau tetap memimpin gerilya. PENYAKIT takluk oleh ambisi perjuangannya untuk merdeka.
Minimal, ada tiga ciri yang dapat diidentifikasi pemuda militan. Pertama, sebagai aktivis yang selalu pro-aktif. Saat melihat problem yang ada. Segera menyelasaikanya secepat dan setepat mungkin. Kita semakin jarang melihat para aktivis sejati. Kedua, aktivis yang memiliki militansi tinggi takkan pernah berhenti berjuang. Kemenangan itu melalui proses panjang. Itu yang diyakininya. Ketiga, memiliki jiwa strong leadership ( kepemimpinan kuat) dan visioner. Dengan itu ia dapat menentang intervensi yang merugikan rakyat. Hanya seorang pemimpin visioner yang mampu melihat masa depan, fokus, konsisten, dan ber-orientasi pada hasil.
Pemuda militan adalah sebuah keniscayaan bagi bangsa ini. Bila bangsa yang besar ini ingin terkenang sebagai ’Peradaban maha Dahsyat pada abad 21-22’. Tertawalah bagi yang ingin tertawa atas tulisan saya ini.
Mari kita jujur. Perbaikan atau revolusi bidang apa sih yang di perlukan negeri kita ini? Agar minimal bangsa ini ’sebesar’ China dan India ( Bharat ) saat ini dan kedepannya. Secara otomatis kita akan segera terpikir dalam bidang politik, ekonomi, militer, sosial-budaya, iptek dan lain-lain. Inilah amanah yang harus diselesaikan oleh pemuda militan.
Sejenak, ada yang menanyakan. Siapa pemuda militan itu?
Mereka ada disini. Mereka bersama kita. Mereka ada di sekeliling kita. Sampai-sampai kita tidak sadar mereka ada di dekat kita. Mungkin saja yang membaca tulisan ini. Pemuda militan itu adalah, Kau, Dia dan Aku !!!

Rabu, 27 Oktober 2010
Pukul 17:20
di Baitul El-Fath, Gegerkiara 20

Tidak ada komentar:

Posting Komentar